Apa itu Filsuf?
Dalam beberapa literature yang sudah saya baca mengenai Kapan
manusia berpikir itu muncul, mungkin sebelum masehi banyak orang yang
mengandalkan pemikiran mengenai alam dunia ini dengan mitos-mitos. Di Yunani sendiri berkembang mitos-mitos
sebagai ganti dalam memahami realita yang terjadi di dunia.
Contohnya adalah adanya petir di saat hujan, putih mengkilat
dan suara nya menggelegar, orang yunani masa mitos menyebut itu sebagai Dewa
Petir atau Zeus. Kemudian ada juga orang yang meninggal juga dikatakan bahwa
mereka yang meninggal itu menemui dewa kematian, dan masih banyak mitos yang
lain. Mengenai sejarah filsafat sendiri akan saya babarkan di tulisan yang
lain.
Hingga saat beberapa abad kemudian ada seorang filsuf yang
bernama Thales mengatakan bahwa sesungguhnya unsur penyusun dunia ini adalah
air. Dari Thales juga kita belajar mengambil keputusan dengan menggunakan argumen,
seperti contoh di bawah:
Tanaman memiliki air
Manusia memiliki air
Binatang memiliki air
Maka segala sesuatu
yang ada di dunia ini memiliki air
Jadi unsur penyusun
dunia ini adalah air
Saat itu juga, filsuf Thales menandai lajunya arah
pergerakan pemikiran dari mitos ke logos. Dari Tahayul ke Pemikiran menggunakan
rasio/akal. Jadi, seorang Filsuf adalah seseorang yang terus menerus bertanya kepada
dirinya dan mencari tahu apa sebetulnya hal paling mendasar dalam hidup.
Apakah ada makna dari segala yang terjadi di dunia ini? Apakah yang saya
lakukan adalah hal-hal baik?
Beda Filsuf dan Ahli
Filsafat
Menurut Ust. Fahrudin Faiz, pengampu acara Ngaji Filsafat di
Masjid Jenderal Sudirman Yogyakarta, sebetulnya ada beda ketika mempelajari
filsafat. Yang pertama kita akan menjadi Filsuf, yaitu yang sudah saya katakan
di atas.
Kemungkinan kedua kita bisa menjadi Ahli Filsafat yaitu seseorang
yang mengambil disiplin ilmu filsafat di Akademi atau Universitas dan telah
lulus dengan membuat suatu karya ilmiah. Di dalamnya belajar mengenai filsafat secara
teoritis, sejarah filsafat, tokoh-tokoh filsafat, istilah filsafat, dan masih
banyak yang lain. Saat ini banyak yang menawarkan program studi filsafat baik
di universitas dalam negeri maupun di swasta. Lebih baik lagi jika seseorang
dapat menjadi filsuf sekaligus ahli filsafat.
Jadi setiap orang sebetulnya dapat menjadi seorang filsuf,
akan tetapi tidak setiap orang bisa menjadi ahli filsafat. Semangat itulah yang
saya bawa di dalam tulisan-tulisan yang akan hadir di blog ini sebagai catatan
saya dalam menjadi seorang filsuf.
Selain itu, pembaca sekalian dapat juga belajar mengenai
bagaimana tahap awal menjadi seorang filsuf. Ibarat Hutan Belantara, filsafat
ini kalau kita tidak tahu rambu-rambu atau petunjuk tidak banyak yang tersesat.
Ada yang merasa sudah jauh, tapi malah berputar ke arah kembali. Blog ini hadir
untuk memberikan pengantar itu.
Dukung blog ini dengan membaca artikel nya, kemudian kritisi
apakah argumen yang saya ketik masih terdapat hal-hal yang dapat di sanggah
atau dikritik. Sebab tradisi filsafat sejak zaman dahulu adalah proses yang kira-kira
tidak terlalu jauh dari hal tersebut.
Tesis – Antitesis – Sintesis.
Kenapa harus menjadi
filsuf?
Di zaman ini saat tulisan ini dibuat, derasnya arus dan
kecepatan dalam mengakses suatu informasi sudah sangat cepat. Kita dalam hitungan
detik dapat menemukan kabar yang terjadi di belahan dunia sana. Teknologi
memungkinkan juga dapat berbicara secara tatap muka melalui gawai dan internet.
Kemajuan teknologi merevolusi segala lini dalam kehidupan kita.
Tapi secara negatif juga menyisakan masalah baru di dalam
kehidupan kita. Arus informasi yang deras membuat pikiran kita mudah
terdistraksi informasi yang masuk. Menjadi seorang filsuf berarti menggunakan
akal pemikiran nya untuk memfilter terhadap informasi yang masuk ke dalam otak
kita. Seorang Filsuf senantiasa terbuka sekaligus kritis. Apakah informasi itu
benar? Apakah informasi itu baik? Apakah informasi itu bermanfaat bagi kita? Apa
akibatnya jika kita membagikan informasi hoax kepada orang lain?
Menjadi filsuf juga senantiasa melatih kita dalam memahami
beragam pemikiran yang ada di dunia. Sehingga kita tidak merasa paling benar
dan menyalahkan orang lain. Beragam bentuk pemikiran itu juga kan tidak semua
nya kita harus telan mentah-mentah. Ada dalam beberapa situasi tertentu dapat
kita manfaatkan pemikiran-pemikiran tersebut untuk menyadari saat kita
overthinking. Yang paling populer saat ini adalah stoikisme atau filosofi teras, dalam bukunya
Mas Henry Manampiring yang berguna untuk meredakan kecemasan, emosi dalam diri,
dan penerimaan terhadap sesuatu yang tidak dapat di ubah.
Filsafat vs Agama
Pertanyaan yang banyak diajukan adalah Apakah belajar
filsafat dapat menjadi seorang atheis? Semengerikan itu sehingga orang takut
belajar filsafat. Padahal orang tersebut yang takut belajar filsafat menolak
filsafat dengan beragumen secara filosofis. Pada tulisan yang lain di blog ini
akan dibahas secara khusus mengenai perdebatan antara filsafat dan agama.
Oleh karena saya adalah seorang muslim, banyak literature yang
saya temukan dalam dunia islam sendiri banyak filsuf yang tetap menjalankan
ibadah dan ketentuan agama islam dan mendamaikan keduanya. Kalau di islam
sendiri filsafat disebut dengan hikmah. Seperti contoh nya Ibnu Sina (Bapak
Kedokteran), Ibnu Rusyd, Imam Al Ghozali (Bahkan sempat belajar filsafat/logika
dan membuat buku Tahafut Al Falasifah dengan cara yang filosofis), Ibnu Arabi,
Jalaludin Rumi, dan lain-lain. Mereka tidak meninggalkan agamanya, akan tetapi
menjadi lebih mantap beragama islam.
Langkah awal menjadi
filsuf
Pada akhirnya perlu sekali kita mempersiapkan hati yang
lapang, pikiran yang kuat, jiwa yang suci dan secangkir kopi untuk melatih kita
menjadi seorang filsuf. Apa yang bisa kita lakukan di awal? Pertanyakan segala
hal yang terjadi di sekitar mu, temukan bukti yang mendukung pernyataan dan
berlatih membuat argument-argumen untuk meyakinkan atau menolak pernyataan itu.
Selain itu kamu bisa terus mebaca tulisan lain di blog ini sehingga kamu bisa
menjadi seorang filsuf.
Ada jargon yang di utarakan pada abad pencerahan,yakni “Sapere Aude” – Beranilah berpikir sendiri. Dan saya harap lewat blog ini belajarlah untuk berani berpikir sendiri, tidak terlalu bergantung kepada orang lain tentang hal-hal mendasar apalagi menyangkut hidupmu. Sampai engkau menemukan kebenaran nya.

