Rabu, 13 Juli 2022

Lebih Baik Jadi Filsuf atau Ahli Filsafat?

View Article



Apa itu Filsuf?

Dalam beberapa literature yang sudah saya baca mengenai Kapan manusia berpikir itu muncul, mungkin sebelum masehi banyak orang yang mengandalkan pemikiran mengenai alam dunia ini dengan mitos-mitos.  Di Yunani sendiri berkembang mitos-mitos sebagai ganti dalam memahami realita yang terjadi di dunia.

Contohnya adalah adanya petir di saat hujan, putih mengkilat dan suara nya menggelegar, orang yunani masa mitos menyebut itu sebagai Dewa Petir atau Zeus. Kemudian ada juga orang yang meninggal juga dikatakan bahwa mereka yang meninggal itu menemui dewa kematian, dan masih banyak mitos yang lain. Mengenai sejarah filsafat sendiri akan saya babarkan di tulisan yang lain.

Hingga saat beberapa abad kemudian ada seorang filsuf yang bernama Thales mengatakan bahwa sesungguhnya unsur penyusun dunia ini adalah air. Dari Thales juga kita belajar mengambil keputusan dengan menggunakan argumen, seperti contoh di bawah:

 

Tanaman memiliki air

Manusia memiliki air

Binatang memiliki air

Maka segala sesuatu yang ada di dunia ini memiliki air

Jadi unsur penyusun dunia ini adalah air

 

Saat itu juga, filsuf Thales menandai lajunya arah pergerakan pemikiran dari mitos ke logos. Dari Tahayul ke Pemikiran menggunakan rasio/akal.  Jadi, seorang Filsuf adalah seseorang yang terus menerus bertanya kepada dirinya dan mencari tahu apa sebetulnya hal paling mendasar dalam hidup. Apakah ada makna dari segala yang terjadi di dunia ini? Apakah yang saya lakukan adalah hal-hal baik?

 

Beda Filsuf dan Ahli Filsafat

Menurut Ust. Fahrudin Faiz, pengampu acara Ngaji Filsafat di Masjid Jenderal Sudirman Yogyakarta, sebetulnya ada beda ketika mempelajari filsafat. Yang pertama kita akan menjadi Filsuf, yaitu yang sudah saya katakan di atas.

Kemungkinan kedua kita bisa menjadi Ahli Filsafat yaitu seseorang yang mengambil disiplin ilmu filsafat di Akademi atau Universitas dan telah lulus dengan membuat suatu karya ilmiah.  Di dalamnya belajar mengenai filsafat secara teoritis, sejarah filsafat, tokoh-tokoh filsafat, istilah filsafat, dan masih banyak yang lain. Saat ini banyak yang menawarkan program studi filsafat baik di universitas dalam negeri maupun di swasta. Lebih baik lagi jika seseorang dapat menjadi filsuf sekaligus ahli filsafat.

Jadi setiap orang sebetulnya dapat menjadi seorang filsuf, akan tetapi tidak setiap orang bisa menjadi ahli filsafat. Semangat itulah yang saya bawa di dalam tulisan-tulisan yang akan hadir di blog ini sebagai catatan saya dalam menjadi seorang filsuf.

Selain itu, pembaca sekalian dapat juga belajar mengenai bagaimana tahap awal menjadi seorang filsuf. Ibarat Hutan Belantara, filsafat ini kalau kita tidak tahu rambu-rambu atau petunjuk tidak banyak yang tersesat. Ada yang merasa sudah jauh, tapi malah berputar ke arah kembali. Blog ini hadir untuk memberikan pengantar itu.

Dukung blog ini dengan membaca artikel nya, kemudian kritisi apakah argumen yang saya ketik masih terdapat hal-hal yang dapat di sanggah atau dikritik. Sebab tradisi filsafat sejak zaman dahulu adalah proses yang kira-kira tidak terlalu jauh dari hal tersebut.  Tesis – Antitesis – Sintesis.

 

Kenapa harus menjadi filsuf?

Di zaman ini saat tulisan ini dibuat, derasnya arus dan kecepatan dalam mengakses suatu informasi sudah sangat cepat. Kita dalam hitungan detik dapat menemukan kabar yang terjadi di belahan dunia sana. Teknologi memungkinkan juga dapat berbicara secara tatap muka melalui gawai dan internet. Kemajuan teknologi merevolusi segala lini dalam kehidupan kita.

Tapi secara negatif juga menyisakan masalah baru di dalam kehidupan kita. Arus informasi yang deras membuat pikiran kita mudah terdistraksi informasi yang masuk. Menjadi seorang filsuf berarti menggunakan akal pemikiran nya untuk memfilter terhadap informasi yang masuk ke dalam otak kita. Seorang Filsuf senantiasa terbuka sekaligus kritis. Apakah informasi itu benar? Apakah informasi itu baik? Apakah informasi itu bermanfaat bagi kita? Apa akibatnya jika kita membagikan informasi hoax kepada orang lain?

Menjadi filsuf juga senantiasa melatih kita dalam memahami beragam pemikiran yang ada di dunia. Sehingga kita tidak merasa paling benar dan menyalahkan orang lain. Beragam bentuk pemikiran itu juga kan tidak semua nya kita harus telan mentah-mentah. Ada dalam beberapa situasi tertentu dapat kita manfaatkan pemikiran-pemikiran tersebut untuk menyadari saat kita overthinking. Yang paling populer saat ini adalah  stoikisme atau filosofi teras, dalam bukunya Mas Henry Manampiring yang berguna untuk meredakan kecemasan, emosi dalam diri, dan penerimaan terhadap sesuatu yang tidak dapat di ubah.

 

Filsafat vs Agama

Pertanyaan yang banyak diajukan adalah Apakah belajar filsafat dapat menjadi seorang atheis? Semengerikan itu sehingga orang takut belajar filsafat. Padahal orang tersebut yang takut belajar filsafat menolak filsafat dengan beragumen secara filosofis. Pada tulisan yang lain di blog ini akan dibahas secara khusus mengenai perdebatan antara filsafat dan agama.

Oleh karena saya adalah seorang muslim, banyak literature yang saya temukan dalam dunia islam sendiri banyak filsuf yang tetap menjalankan ibadah dan ketentuan agama islam dan mendamaikan keduanya. Kalau di islam sendiri filsafat disebut dengan hikmah. Seperti contoh nya Ibnu Sina (Bapak Kedokteran), Ibnu Rusyd, Imam Al Ghozali (Bahkan sempat belajar filsafat/logika dan membuat buku Tahafut Al Falasifah dengan cara yang filosofis), Ibnu Arabi, Jalaludin Rumi, dan lain-lain. Mereka tidak meninggalkan agamanya, akan tetapi menjadi lebih mantap beragama islam.

 

Langkah awal menjadi filsuf

Pada akhirnya perlu sekali kita mempersiapkan hati yang lapang, pikiran yang kuat, jiwa yang suci dan secangkir kopi untuk melatih kita menjadi seorang filsuf. Apa yang bisa kita lakukan di awal? Pertanyakan segala hal yang terjadi di sekitar mu, temukan bukti yang mendukung pernyataan dan berlatih membuat argument-argumen untuk meyakinkan atau menolak pernyataan itu. Selain itu kamu bisa terus mebaca tulisan lain di blog ini sehingga kamu bisa menjadi seorang filsuf.

Ada jargon yang di utarakan pada abad pencerahan,yakni “Sapere Aude” – Beranilah berpikir sendiri. Dan saya harap lewat blog ini belajarlah untuk berani berpikir sendiri, tidak terlalu bergantung kepada orang lain tentang hal-hal mendasar apalagi menyangkut hidupmu. Sampai engkau menemukan kebenaran nya.